Strategi Bawaslu Lampung Melibatkan Akademisi dan Pemuda dalam Konsolidasi Demokrasi
|
Bandar Lampung, Jumat (20/02). Jajaran pengawas pemilu di seluruh wilayah Lampung mengikuti pertemuan daring guna membahas strategi penguatan sistem politik pada masa jeda pemilihan. Bawaslu Republik Indonesia menginstruksikan seluruh personel di tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota untuk menjalankan tugas konsolidasi demokrasi secara efektif. Fokus utama rapat ini adalah memantapkan pemahaman bahwa fungsi pengawasan tetap melekat pada lembaga meskipun tidak ada aktivitas pemungutan suara yang sedang berjalan. Hal ini merupakan wujud nyata dari status Bawaslu sebagai institusi permanen yang bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas dan kualitas demokrasi di Indonesia.
Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu RI, Totok Hariyono, memberikan arahan mengenai esensi kehadiran lembaga pengawas. Beliau menjelaskan bahwa surat instruksi konsolidasi demokrasi merupakan respons atas anggapan bahwa Bawaslu hanya bekerja saat pemilu berlangsung. Totok menegaskan bahwa jika institusi hanya aktif selama masa tahapan maka keberadaan lembaga permanen menjadi tidak relevan. Oleh karena itu, beliau mewajibkan seluruh jajaran pengawas untuk melaksanakan agenda konsolidasi sebagai bagian dari penguatan nilai demokrasi secara mendalam.
Dalam forum tersebut diuraikan mengenai pembagian peran lembaga pada situasi yang berbeda. Pada saat tahapan pemilu berlangsung, prioritas kerja diarahkan pada pengawasan prosedural serta penindakan terhadap berbagai bentuk pelanggaran. Sebaliknya, pada masa di luar tahapan, Bawaslu memfokuskan energi pada penguatan substansi melalui jalur pendidikan politik dan peningkatan literasi kepemiluan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa keterlibatan masyarakat dalam proses politik bukan hanya bersifat seremonial melainkan didasari oleh kesadaran yang tinggi.
Kualitas pilihan publik dalam menentukan pemimpin nasional menjadi perhatian utama bagi penyelenggara pengawasan. Totok Hariyono mengingatkan bahwa integritas pemilihan sangat dipengaruhi oleh rasionalitas para pemilih. Ia menyatakan bahwa demokrasi harus dibangun di atas kesadaran rasional serta penilaian terhadap rekam jejak dan kapasitas calon. Totok juga menekankan agar masyarakat tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan faktor penampilan fisik semata. Kesadaran untuk melihat integritas seseorang merupakan fondasi utama bagi terciptanya kepemimpinan yang berkualitas.
Anggota Bawaslu Provinsi Lampung, Suheri, memberikan tanggapan terkait kesiapan jajaran di daerah dalam merespons arahan tersebut. Beliau memandang masa di luar tahapan sebagai momentum penting untuk mempertegas peran pengawas di tengah masyarakat Lampung. Suheri menjelaskan bahwa konsolidasi demokrasi bukan sekadar agenda rutin tetapi merupakan komitmen untuk memastikan kualitas politik tetap terjaga. Ia berpendapat bahwa literasi politik yang baik akan melahirkan partisipasi publik yang lebih cerdas serta bertanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan politik.
Rencana tindak lanjut di tingkat provinsi akan melibatkan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat sipil. Bawaslu Lampung akan mendorong kolaborasi dengan sektor akademisi melalui perguruan tinggi serta merangkul komunitas pemuda di daerah. Suheri menambahkan bahwa kekuatan demokrasi membutuhkan proses perawatan yang konsisten karena sistem yang sehat tidak lahir secara instan. Jajaran pengawas di Lampung menyatakan komitmen untuk mengintegrasikan setiap instruksi pusat ke dalam program kerja lokal demi memperkokoh tatanan demokrasi di wilayah tersebut.
Editor : Mayu Shofa/Fakhmi Umar
Foto : Aris Munandar